Revolusi Suriah: Kebrutalan rezim Fir’aun abad 21

Tidak banyak yang tahu, Suriah terbakar sejak 15 Maret 2011. Demonstrasi dilakukan di berbagai kota dan desa. Rakyat menuntut kesamaan hak, kehidupan yang aman, kebebasan dan Negara demokrasi yang beradab.

Tahun 1970, Hafidz Assad menjadi presiden Suriah setelah kudeta militer yang menewaskan puluhan jendral dan tentara, juga ratusan warga sipil. Presiden Assad melakukan pembantaian terhadap para pemimpin Ikhwanul Muslimin, pengacara, insinyur, dokter, ulama, cendekiawan, dosen, dan tokoh oposisi yang menolak pemerintahannya. Mereka menculik, melakukan pemerkosaan terhadap wanita, menghancurkan rumah, bangunan, masjid, gereja dan pasar. Tak hanya di jalan dan bangunan umum, mereka juga melakukan pembantaian di penjara – penjara mereka. Mereka memasuki Libanon dan membantai penduduk Libanon serta pengungsi Palestina di Libanon. Tahun 2000, Hafidz Assad meninggal karena kanker. Ia digantikan oleh putra bungsunya, Bashar Assad, meski langkah tersebut mengharuskan perubahan undang – undang Negara yang dilakukan hanya beberapa jam sebelum pengangkatan Bashar Assad menjadi Presiden. Bashar Assad adalah tokoh dari partai Ba’ats yang didominasi kelompok Nushairiyah. Nushairiyah merupakan bagian dari sekte Syi’ah ekstrim yang telah dihukumi murtad dari Islam oleh seluruh ulama muslim. Seperti apakah kepemimpinan Bashar Assad di Suriah?

Bashar Assad melanjutkan kekejian yang dilakukan ayahnya. Masyarakat digempur dengan tank – tank, bom, mortar, dan tembakan dari pesawat terbang. Penduduk tak berdosa, tak bersenjata, dibunuhi di rumah – rumah mereka. Kebanyakan adalah anak – anak, wanita, dan lansia. Di jalan – jalan terlihat jasad – jasad tak bernyawa, ratusan luka – luka, namun tak seorang pun datang menolong dan mengobati lukanya. Ada yang disiksa dengan bersujud pada gambar Bashar Assad dan harus mengatakan laa ilaha illabashar.

Revolusi Suriah terjadi tanpa perkiraan dan perencanaan pihak mana pun. Beberapa siswa sekolah dasar di propinsi Dir’a yang menuliskan slogan anti rezim yang berkuasa di Suriah. Setelah itu mereka ditangkap dan disiksa oleh aparat keamanan, ada yang mengatakan kuku – kuku mereka dicabuti. Hal ini mengundang kemarahan orang tua murid, sehingga terjadilah ketegangan antara warga dengan aparat keamanan mulailah terjadi revolusi hingga berkembang dalam skala besar seperti sekarang ini. Kebiadaban rezim Nushairiyah Suriah ini didukung oleh Negara Syiah Imamiyah Iran, Rusia, Hizb Nasrullah la’natullah yang syiah (dulu kita kenal dengan istilah Hizbullah, Libanon), serta pemerintahan Al-Maliki Irak yang syiah.

Syekh Ghiyast Abdul Baqi yang belum lama ini berkunjung ke Yogyakarta menyampaikan bahwa sudah satu tahun ini, Muslim Suriah, ahlus sunnah wal jamaah, ditangkapi dan disiksa oleh pemerintah mereka. Bentuk penyiksaan yang dilakukan sungguh keji: dipukuli, diinjak – injak (termasuk kepalanya), disembelih, diperkosa, dibunuh, dipotong bagian – bagian tubuhnya, dicongkel matanya, dan penyiksaan biadab lain yang sulit dideskripsikan. Setiap selesai solat jamaah di masjid, kaum muslim berkumpul dengan damai menyerukan tuntutan mereka. Namun mereka diserang dengan kekuatan penuh militer Suriah. Menara dan masjid – masjid dijatuhi bom dan mortir, orang – orang ditembaki membabi buta dari jauh. Sekolah – sekolah serta bangunan lain ditutup dan diubah menjadi kerangkeng penjara. Rezim ini telah menyebabkan lebih dari 10.000 warga muslim Suriah gugur dan 150.000 dipenjara. Yang luka – luka ada ribuan orang, tanpa ada yang merawat, tak ada obat. Pengungsi ke Negara tetangga mencapai 30.000-an orang. Di kota Himsha, 5.000-an orang cacat karena disiksa. Itu baru yang diketahui. Beliau dan Muslim Suriah berharap, kita tidak melupakan saudara – saudara kita Muslim ahlus sunnah wal jamaah di Suriah untuk didoakan, karena pemerintah Suriah yang dhalim, membunuh, menyembelih, dan menyiksa kaum Muslimin. (Zafi – berbagai sumber)

(bantuan donasi bisa dikirimkan melalui Pro-U media, Jogokariyan, Yogyakarta)

Iklan